Rekan-rekan, berikut ini adalah tulisan yang sangat menarik dari Pak Darwin Chalidi, seorang konsultan Character Building & Organization Development. Beliau membaca novel ini dan membuat sebuah pengamatan dari sudut yang amat berbeda. Terima kasih Pak Darwin untuk memperkaya wawasan saya dan mengizinkan note ini diposting disini. (AF)
Buku ini penuh pelajaran bagaimana mengelola kelompok besar (3000 orang) 24 jam perhari 365 hari pertahun yang sangat heterogen. Kunci utama yang ada dalam buku ini yang dapat dipakai sebagai nara sumber dalam mengelola SDM adalah dari segi “deployment” nilai-nilai atau character yang ada dalam istilah mereka “Qanun” yang tidak akan mengurangi bobot pencapaian kinerja yaitu mencari pengetahuan itu sendiri.
Banyak konsultan asing seperti McKinsey Company, Booz Allen Hamilton, Boston Consulting, maupun lokal yang tidak akan mengira bahwa ada sebuah "proces deployment" dengan metode lokal yang demikian unique ini (karena dibacakan hanya sekali dan tidak boleh dituliskan) bertahan dipelosokkan Indonesia yaitu dipedalaman Jawa Timur dekat kota kecil Ponorogo serta telah teruji selama 80 tahun lebih keampuhannya. Barangkali perusahaan terkenal dan dianggap sebagai pakar dalam "values deployment" yaitu General Electric boleh iri melihat keberhasilan sistim pondok ini.
Contoh konkrit dari deployment ini adalah dilakukan sistim “360 degree behaviors feedback” selama 24 jam perhari oleh santri. Mekanismenya melalui penyerahan dua nama pelanggar nilai-nilai beserta kelas dalam selembar kartu kecil oleh spionase lokal (jasus) untuk dapat lepas dari tugas sebagai jasus. Yang dilaporkan oleh jasus bertugas untuk mencari dua orang pelanggar nilai-nilai dan begitu seterusnya. Sehingga di tengah kesibukan santri menuntut ilmu sebagai KINERJA UTAMA, mereka selalu dituntut terus waspada dengan apapun yang mereka lakukan untuk tidak melanggar nilai-nilai. Penetrasi jasus menjadi sangat luas dan dalam, karena bisa saja ada di antrian kamar mandi, kiftir (kafetaria), kelas, acara olahraga dan segala aspek kehidupan santri. Dinding, pintu, tanah, bahkan angin, bagai punya mata dan telinga. Santri tidak pernah tahu siapa yang sedang menjadi jasus di antara mereka.
Untuk succession planning (Leadership Pipeline) dengan adanya “behavior feedback” instant 24 jam perhari, maka mereka yang berhasil naik kelas enam (pencapaian Kinerja Utama) berarti telah melejit ke puncak pimpinan santri (istilah buku puncak rantai makanan). Sebagai murid paling senior, paling berkuasa, paling bebas, & tidak ada lagi pihak keamanan yang memburu. . Yang berhak menghukum hanyalah para ustad dan Kantor Pengasuhan (Shareholder Pondok). Dan terbukti untuk hal-hal yang melanggar nilai mereka tidak terlepas dari hukuman dan itu dibuktikan dengan hukuman satu tingkat dibawah PHK yaitu penggundulan. Mereka adalah survivor dari seleksi alam bertahun-tahun merasai hidup militan di Pondok. Boleh disebutkan dengan bangga, mereka adalah manusia pilihan.
Oleh karena itu buku ini wajib dipelajari secara teliti oleh para praktisi SDM sebagai salah satu nara sumber.
Darwin Chalidi, seorang konsultan Character Building & Organization Development.